Rabu, 14 Maret 2012

Tugas 2 Fonetik

Nama : Dewi Puspitasari
NIM : A 31011019
Kelas : 2D
Mata Kuliah : Fonetik

  1. Bunyi bahasa
Menurut proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris. Dalam fonetik artikulatoris hal yang pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa.
Contoh :
  1. Sayurrrrr...
    Memberi tahukan bahwa ada penjual sayur.
  2. Sayur?
    Bertanya tentang sayur.
  3. Sayur!!
    Memanggil penjual sayur.


  1. Suara adalah bunyi yang dikeluarkan oleh mulut manusia, hewan, serta barang- barang yang bisa menghasilkan suatu bunyi.
    Contoh Suara :
  1. Pyarrrrrr.......
Itu berarti suara benda pecah belah jatuh.
  1. So.... to......
    Itu berarti suara orang yang berjualan soto.
  2. Gukk... Gukkk.. Gukkk...
    Itu menandakan anjing sedang menggonggong.

Selasa, 13 Maret 2012


Nama  : Dewi Pusitasari
NIM     : A310110169
Kelas    : 2C
Makul  : Membaca Komprehensif

SI PARASIT LAJANG

Buku yang di tulis oleh Ayu Utami ini menceritakan tentang berbagai hal yang terjadi padanya. Pada bab yang berjudul “Si Parasit lajang” di sini di ceritakan ada hal yang dikagumi pada era Orde baru : setiap bulan April kita berpikir tentang perempuan. Setiap April ada sebuah semi; semi bagi pemikiran tentang wanita. Pada saat TK dan SD saya  mengalami Hari Kartini sebagai hari pakaian tradisional, lalu berpawai dengan baju adat.
Salah satu majalah edisi Februari-April mengangakat tema fashion kebaya untuk liputan Hari Kartini denan kepentingan “sebagai penghormatan terhadap kaum remaja putri dan ibu”. Para feminis seperti saya boleh menganggapnya bodoh (bodoh bukan sesuatu yang salah. Bodoh adalah sesuatu yang bodoh, tolol!). Ada sederet alasan menjelaskan ketololan itu. Misalnya, kenpa ultah Diponegoro tidak di peringati sebagai hari sorban nasional? Atau hari berkuda? Bagaimanapun pertanyaan demikian tidak menghinakan wanita. Ia hanya memberi alasan untuk sebuah festifal yang tak ada relevansinya sama sekali dengan penghormatan pada pilihan-pilihan Kartini. Perlu dicatat: tak banyak negara yan mempunyai perayaan ini.
Dan inilah problem wanita karir: tuntutan berperan ganda. Ada satu titik saat ia harus memilih antara menjadi ibu dan menjadi mandiri. Barangkali di Indonesia tidak terlalu merasakannya, sebab kita bisa punya pembantu yan menjaga bayi. Tetapi di negara maju tak kan mampu menggaji penjaga bayi 24 jam.
Saya pernah kenal seoran feminis Jepang. Berdasarkan riset temannya, kebanyakan perempuan Jepang yan karirnya maju tidak menikah. Dan wanita demikian umumnya tetap numpang di rumah orangtua mereka. Ia menyebut makhluk begini, barangkali juga dirinya sendiri single parasite. Tepat! Itulah saya, si Parasit Lajan. Numpang di rumah orangtua, tak bayar listrik, pai bermain, siang bekerja, malam menulis, tanpa mikir memberi makan anjing atau mencuci mobil. Siapa saya bagi Ibu kecuali benalu?
Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.




Penulis             : Ayu Utami
Tahun terbit    : 2003
Judul Buku       : Si Parasit Lajang : seks, sketsa, & cerita
Kota Terbit      : Jakarta
Penerbit          : Gagas Media