Kamis, 20 Juni 2013

Puisi Kahlil Gibran - Cermin Diri


Jika sifat kalkulatif mutualisme membuat kau jauh dariku…
Berarti pemahaman individualismu masih teramat dangkal…
Aku benar-benar kecewa soal itu…
Percuma mulutku berbui sampai robek, kau tak kan pernah paham maksudku…
Dan jika cultularis masih mengikat kuat di dalam pikiranmu,
Sampai mampus pun kau tak kan bisa terima aku…!
Kau seperti Ortodox yang selalu ingim menepatkan egomu diatas altur penyenbahan itu…
Slalu ingin disanjung seperti anak kecil yang dicolok permen kemulnya…
Jika egomu diperolok, mukamu merah menyala bagai api…!
Dasar manusia ortodox…!

Rabu, 26 Desember 2012


Artikulasi Cinta yang Penuh Improvisasi


Bahwasanya sebuah kata tentang cinta, merupakan suatu hal yang harus dilakukan secara beruntun atau urut  agar bisa menggapai akhir yang indah, kini saat kau akan  berusaha untuk mencoba memulai menggapai akhir yang diinginkan, kau harus memulainya dari langkah yang paling awal, cinta yang biasanya dirasakan dengan kebahagiaan didalamnya, bisa saja terlihat membosankan, bahkan yang biasanya terlihat paling indahpun, kadang terlihat biasa saja.
Tak ada yang bisa mengerti bahkan memahami, bahwasanya cinta itu bukanlah sebuah kata yang sederhana dan mudah dimengerti oleh siapa pun, segalanya harus dimulai dari awal tidak bisa di mulai dari tengah atau akhir, dan begitupun juga harus diakhiri pada titik yang paling akhir, yaitu setelah mencapai titik puncak.

DEPUSA

MENDUNG TAK BERARTI HUJAN

Pada terangnya cahaya matahari
Cahaya yang senantiasa menyinari dunia ini
Dibalik cahayanya yang terang
Muncullah setitik awan mendung yang akan menutupinya
Pada kursi tua yang enggan untuk rapuh
Aku semakin enggan untuk melepasmu
Begitu saja
            Hati ini masih menyimpan sejuta asa
            Sejuta impian dan sejuta harapan
            Langit yang kian lama semakin mendung
            Menutupi cerahnya cahaya matahari
            Aku harus berharap agar hujan tak turun
            Tidak menghilangkan senyum matahari
Mendung tinggalah mendung
Yakinlah bahwa akan segera datang angin
Menyapu mendung di langit
Dan cahaya matahari akan terus bersinar
Tetap menyinari bumi ini
Melukiskan senyum di bibir setiap insan di dunia


DEPUSA

Jumat, 07 Desember 2012

Segala air mata yang telah tercurah
Demi rasa yang aku ingin pertahankan
Rasa pahit yang tergores dihati
Rasa lelah yang aku hadapi
Semoga semua akan segera musnah
Dan berakhir dengan sesuatu hal yang menyenangkan
Suatu hal yang telah menjadi impian

DEPUSA
Seminggu tlah berlalu
Segala hal yang sempat berhenti
Kini aktif kembali
Tapi. . . .
Setelah kembali semua terasa aneh
Ucapan, suara, kata-kata
terasa asing bagiku
Perasaan ini menjadi tak menentu
Tapi. . . .
Aku yakin seiring berjalannya waktu
Semua akan kembali
Kembali seperti sedia kala.

07 Des 2012
                                                                                                                                                DEPUSA

Rabu, 14 Maret 2012

Tugas 2 Fonetik

Nama : Dewi Puspitasari
NIM : A 31011019
Kelas : 2D
Mata Kuliah : Fonetik

  1. Bunyi bahasa
Menurut proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris. Dalam fonetik artikulatoris hal yang pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa.
Contoh :
  1. Sayurrrrr...
    Memberi tahukan bahwa ada penjual sayur.
  2. Sayur?
    Bertanya tentang sayur.
  3. Sayur!!
    Memanggil penjual sayur.


  1. Suara adalah bunyi yang dikeluarkan oleh mulut manusia, hewan, serta barang- barang yang bisa menghasilkan suatu bunyi.
    Contoh Suara :
  1. Pyarrrrrr.......
Itu berarti suara benda pecah belah jatuh.
  1. So.... to......
    Itu berarti suara orang yang berjualan soto.
  2. Gukk... Gukkk.. Gukkk...
    Itu menandakan anjing sedang menggonggong.